Mengapa Pluto Bukan Termasuk Planet Lagi?
Pluto, Planet yang Terbuang
Dahulu, kita diajarkan bahwa tata surya memiliki sembilan planet, dengan Pluto sebagai planet paling kecil dan paling jauh dari Matahari. Namun, pada tahun 2006, status Pluto sebagai planet resmi dicabut oleh Persatuan Astronomi Internasional (IAU). Sejak saat itu, Pluto tidak lagi dianggap sebagai planet, melainkan diklasifikasikan sebagai “planet kerdil” atau dwarf planet. Tapi, apa alasan di balik keputusan ini? Apakah Pluto benar-benar tidak memenuhi syarat sebagai planet? Mari kita bahas!
Pluto dalam Sejarah Astronomi
Pluto pertama kali ditemukan pada tahun 1930 oleh Clyde Tombaugh, seorang astronom Amerika. Penemuan ini dianggap sebagai pencapaian besar, karena pada saat itu, ilmuwan percaya ada sebuah planet kesembilan di luar orbit Neptunus, yang mereka sebut sebagai “Planet X”. Pluto menjadi bagian dari tata surya selama lebih dari 75 tahun sebelum statusnya berubah.
Penamaan Pluto
Nama Pluto diambil dari nama dewa dunia bawah Romawi. Venetia, putri dari Falconer Madan, mantan kepala Perpustakaan Bodleian di Universitas Oxford, menyarankan nama Pluto.
Proses penamaan Pluto
- Pada tahun 1930, Venetia Burney, seorang gadis berusia 11 tahun dari Oxford, Inggris, mengusulkan nama Pluto.
- Usulan Venetia diterima dan Pluto resmi mendapatkan namanya pada 1 Mei 1930.
- Venetia mendapatkan hadiah £5 sebagai pengusul nama Pluto.
Alasan penamaan Pluto
- Nama Pluto mempertahankan nomenklatur planet dalam dunia mitologi klasik.
- Nama Pluto juga merupakan penghormatan kepada Percival Lowell, karena dua huruf pertama dari nama Pluto adalah inisial Percival Lowell.
Definisi Baru tentang Planet
Pada tahun 2006, IAU menetapkan definisi baru tentang apa yang disebut sebagai planet. Berdasarkan definisi ini, suatu benda langit harus memenuhi tiga syarat agar bisa diklasifikasikan sebagai planet:
- Mengorbit Matahari – Pluto memenuhi syarat ini karena ia mengorbit Matahari seperti planet-planet lain.
- Memiliki massa yang cukup untuk membentuk bentuk bulat akibat gravitasinya sendiri – Pluto juga memenuhi kriteria ini karena bentuknya hampir bulat.
- Membersihkan orbitnya dari objek lain – Inilah poin yang menyebabkan Pluto dikeluarkan dari daftar planet. Pluto tidak cukup besar untuk menarik atau membersihkan objek-objek lain di sekitarnya.
Karena Pluto gagal memenuhi kriteria ketiga, maka ia dikategorikan sebagai planet kerdil, bukan planet utama seperti Bumi, Mars, atau Jupiter.
Orbit Pluto yang Unik
Salah satu alasan utama mengapa Pluto berbeda dari planet lain adalah orbitnya yang aneh. Sebagian besar planet di tata surya memiliki orbit berbentuk lingkaran yang hampir sempurna di sekitar Matahari. Namun, orbit Pluto lebih lonjong dan miring dibandingkan dengan planet lain. Orbitnya bahkan bersilangan dengan orbit Neptunus, sesuatu yang tidak terjadi pada planet-planet lain.
Perbandingan Pluto dengan Planet Kerdil Lain
Setelah Pluto diklasifikasikan ulang sebagai planet kerdil, ilmuwan mulai menemukan objek-objek lain yang serupa dengannya di Sabuk Kuiper, sebuah wilayah di luar Neptunus yang dipenuhi oleh benda-benda es. Salah satu objek yang ditemukan adalah Eris, yang ukurannya hampir sama dengan Pluto. Jika Pluto masih dianggap sebagai planet, maka Eris juga harus masuk ke dalam kategori yang sama. Oleh karena itu, daripada menambah jumlah planet dalam tata surya, IAU memilih untuk mengubah definisi planet dan mengelompokkan Pluto sebagai planet kerdil.
Kontroversi: Pluto Masih Planet di Hati Banyak Orang
Meskipun IAU sudah membuat keputusan resmi, banyak ilmuwan dan masyarakat umum yang masih menganggap Pluto sebagai planet. Bahkan, dalam beberapa survei, banyak orang yang kecewa dengan keputusan tersebut karena Pluto telah menjadi bagian dari pendidikan astronomi selama puluhan tahun.
Seorang ilmuwan terkemuka, Dr. Alan Stern, yang memimpin misi New Horizons ke Pluto, menentang keputusan IAU. Menurutnya, definisi planet seharusnya lebih inklusif dan tidak hanya bergantung pada kriteria “membersihkan orbitnya” karena itu tidak berlaku untuk banyak objek lain di tata surya.
Apakah Pluto Bisa Menjadi Planet Lagi?
Ada beberapa argumen yang mendukung kembalinya Pluto sebagai planet:
- Definisi Planet IAU Tidak Sempurna – Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa kriteria membersihkan orbit terlalu ketat dan tidak sesuai dengan karakteristik objek di tata surya.
- Penemuan Exoplanet – Seiring dengan berkembangnya teknologi, kita telah menemukan ribuan exoplanet di luar tata surya yang memiliki karakteristik unik. Beberapa di antaranya mungkin tidak memenuhi kriteria planet menurut IAU, tetapi tetap disebut sebagai planet.
- Dukungan Publik – Banyak astronom dan penggemar luar angkasa masih menganggap Pluto sebagai planet. Jika ada cukup banyak tekanan dari komunitas ilmiah, ada kemungkinan definisi planet akan diubah kembali.
Fakta Menarik tentang Pluto
- Pluto memiliki lima bulan yang diketahui, dengan Charon sebagai bulan terbesar. Bahkan, Charon hampir setengah ukuran Pluto sendiri, sehingga Pluto dan Charon sering dianggap sebagai sistem biner.
- Satu tahun di Pluto sama dengan 248 tahun di Bumi karena orbitnya yang sangat jauh dari Matahari.
- Suhu Pluto bisa mencapai -240 derajat Celsius, membuatnya salah satu tempat terdingin di tata surya.
- Misi New Horizons yang dikirim NASA berhasil mendekati Pluto pada tahun 2015 dan mengungkapkan bahwa Pluto memiliki permukaan es, pegunungan, dan atmosfer tipis.
Pluto mungkin tidak lagi disebut sebagai planet menurut definisi resmi, tetapi tetap memiliki tempat istimewa dalam astronomi dan di hati banyak orang. Keputusan IAU untuk menurunkan status Pluto menjadi planet kerdil memang kontroversial, tetapi hal itu juga membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut tentang objek lain di luar Neptunus.
Jadi, apakah Pluto seharusnya tetap disebut planet? Atau apakah kita harus menerima status barunya? Bagaimanapun, Pluto akan selalu menjadi objek luar angkasa yang menarik untuk dipelajari!
Bagaimana pendapatmu? Apakah Pluto masih layak disebut planet? Yuk, diskusikan di kolom komentar!
Share this content:
Post Comment