Hidup Sebagai Warga Inggris di Masa Perang Dunia Pertama: Sebuah Kisah Penderitaan dan Perjuangan

Perang Dunia Pertama (1914–1918) adalah salah satu konflik paling brutal dalam sejarah manusia. Sebagai warga negara Inggris yang hidup di masa itu, kita akan menghadapi berbagai tantangan yang luar biasa, mulai dari wajib militer yang mengharuskan kita bertempur di garis depan hingga penderitaan yang dialami oleh keluarga di tanah air. Artikel ini akan mengeksplorasi bagaimana rasanya hidup di era tersebut, khususnya sebagai seorang pria yang harus bergabung dengan militer, serta penderitaan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Panggilan Wajib Militer: Awal Dari Segalanya

Pada tahun 1916, Inggris menerapkan sistem wajib militer melalui Military Service Act. Jika kita adalah seorang pria sehat berusia 18 hingga 41 tahun, kita tidak memiliki pilihan selain bergabung dengan Angkatan Darat. Tidak ada jalan keluar, kecuali jika kita memiliki kondisi kesehatan yang buruk atau bekerja dalam pekerjaan yang dianggap esensial, seperti industri senjata atau pertanian.

Saat menerima panggilan wajib militer, kita mungkin akan merasa campur aduk. Ada ketakutan luar biasa akan apa yang menanti di medan perang, tetapi juga rasa patriotisme yang ditanamkan dalam propaganda pemerintah. Para rekrutan baru biasanya dikirim ke kamp pelatihan selama beberapa bulan sebelum akhirnya dikirim ke garis depan di Prancis atau Belgia, tempat perang parit menjadi ciri khas utama konflik ini.

Hidup di Parit: Neraka di Dunia Nyata

Begitu tiba di medan perang, kita segera menyadari bahwa semua kisah heroik yang diceritakan di tanah air hanyalah ilusi. Perang tidaklah romantis; ia adalah mimpi buruk yang tak berujung.

Kita akan tinggal di parit-parit yang penuh dengan lumpur, kotoran, dan mayat-mayat tentara yang membusuk. Cuaca yang buruk memperburuk keadaan, terutama saat hujan turun dan parit berubah menjadi genangan lumpur yang menjijikkan. Lapar dan kelelahan menjadi teman setia kita, sementara penyakit seperti trench foot (kaki parit) dan disentri menyebar dengan cepat.

Tidak ada yang bisa menyiapkan kita untuk kengerian perang. Ledakan artileri terus-menerus mengguncang tanah di sekitar kita, sementara suara tembakan senapan mesin dan jeritan tentara yang terluka menjadi latar belakang sehari-hari. Jika perintah diberikan untuk menyerang garis musuh, kita harus keluar dari parit dan berlari ke arah senapan mesin Jerman yang siap menembaki kita tanpa ampun. Peluang untuk selamat sangat tipis.

Kengerian Tikus di Perang Parit
  • Tikus di parit bisa sebesar kucing, karena mereka memakan mayat tentara yang tidak bisa segera dikubur.
  • Jumlahnya jutaan, karena kondisi parit yang kotor dan lembap adalah tempat sempurna untuk berkembang biak.
  • Tikus tidak takut pada manusia, malah sering berlarian di atas tentara yang sedang tidur.
  • Mereka menggerogoti sisa makanan, peralatan, bahkan jari-jari tentara yang sedang tidur.
  • Tikus juga bisa menyebarkan penyakit, seperti trench fever, yang menyebabkan demam tinggi dan nyeri parah.

Rasa Kehilangan dan Trauma

Jika kita beruntung untuk bertahan hidup dalam pertempuran, mental kita tetap akan hancur. Banyak tentara menderita gangguan psikologis yang saat itu disebut “shell shock” (sekarang dikenal sebagai PTSD). Namun, pada masa itu, kondisi ini tidak dipahami dengan baik, dan banyak tentara yang mengalaminya justru dianggap pengecut atau pembangkang.

Selain itu, kehilangan teman-teman seperjuangan adalah pengalaman yang menghancurkan. Kita akan melihat sahabat yang kita latih bersama tewas dalam hitungan detik, tanpa bisa berbuat apa-apa. Beberapa dari kita mungkin bahkan harus menginjak-injak mayat mereka saat berusaha mencari perlindungan.

Kehidupan di Tanah Air: Penderitaan yang Tak Kalah Berat

Bagi keluarga yang ditinggalkan di Inggris, perang juga membawa penderitaan yang besar. Ransum makanan diberlakukan karena sumber daya diarahkan untuk kebutuhan militer. Banyak wanita harus bekerja di pabrik amunisi atau rumah sakit militer untuk mendukung upaya perang. Bom Zeppelin Jerman juga mengancam penduduk sipil, terutama di kota-kota besar seperti London.

Para ibu, istri, dan anak-anak hidup dalam ketakutan, menunggu kabar dari medan perang. Setiap hari, mereka cemas akan datangnya telegram dari pemerintah yang mengabarkan bahwa anak atau suami mereka telah gugur. Kesedihan meliputi seluruh negeri, menciptakan suasana yang suram dan penuh duka.

Harapan yang Kian Menipis

Seiring perang yang terus berlanjut, kelelahan dan keputusasaan merajalela. Kita mulai mempertanyakan apakah semua ini sepadan. Apakah nyawa yang dikorbankan benar-benar membawa perubahan? Namun, sebagai tentara, kita tidak punya pilihan selain terus bertahan dan mengikuti perintah.

Akhirnya, pada 11 November 1918, perang berakhir dengan kemenangan Sekutu. Tetapi bagi kita yang selamat, perang tidak benar-benar berakhir. Kita harus kembali ke masyarakat dengan luka fisik dan mental yang sulit disembuhkan. Banyak veteran perang kesulitan menemukan pekerjaan, dan mereka yang mengalami trauma psikologis sering kali diabaikan oleh pemerintah dan masyarakat.

Kesimpulan: Sebuah Tragedi yang Mengubah Segalanya

Hidup sebagai warga Inggris selama Perang Dunia Pertama adalah pengalaman yang penuh penderitaan, baik di medan perang maupun di tanah air. Wajib militer memaksa jutaan pria untuk bertempur dalam kondisi yang mengerikan, sementara keluarga mereka di rumah harus menghadapi kelaparan, ketakutan, dan kehilangan. Perang mengubah wajah dunia, tetapi bagi mereka yang mengalaminya secara langsung, luka-lukanya tetap ada, bahkan setelah pertempuran berakhir.

Dari pengalaman ini, kita belajar bahwa perang bukan hanya tentang kemenangan atau kekalahan di medan perang, tetapi juga tentang penderitaan manusia yang tak terhitung jumlahnya. Sebuah tragedi yang, semoga, tidak akan pernah terulang lagi dalam sejarah umat manusia.

Share this content:

Post Comment

You May Have Missed